Langsung ke konten utama

Sebuah usaha untuk membasuh

Pada blog "The Day I Confessed", saya banyak menulis perjalanan pribadi pada masa transisi. Banyak sekali nada penuh emosi saat Papa mendadak pergi, dan saya masih luntang lantung tidak tau harus membantu Mama yang tinggal seorang diri. Hal-hal yang saya keluhkan di sana tak lebih dan tak kurang adalah perihal hati, pengalaman ditikung, kekasih yang minim perhatian, maupun kesedihan akibat berpisah dengan teman semasa kecil. Blog tersebut bisa dibilang merupakan seri "Teenlit" saya jika dikategorikan sebagai novel.

Kali ini, sama seperti Baskara Putra atau yang kita kenal dengan nama Hindia, Ia merilis lagu "Membasuh" untuk mengingatkan sosok Baskara agar tidak patah dan menyerah. Sebuah kelanjutan dari lagu Belum Tidur, katanya.

Blog ini juga lahir karena saya ingin merekatkan kembali satu persatu memori saya atas perjalanan selama hampir satu dekade ini berjuang, bertahan, dan sempat hampir menyerah.
Saya ingin menulis untuk diri saya sendiri, agar jangan sampai menyerah lagi.

Sebab, manusia mudah mengingat hal buruk ketimbang hal baik, padahal itu jelas-jelas tidak baik.
Dan pemikiran-pemikiran buruk itu kerap kali hadir karena kita belum tidur.
Badai dalam otak, ragu dalam benak, dan sesal yang membuat sesak.

It's been  along journey that I am in.
Saya tau, apa yang saya alami masih tidak seberapa bagi sebagian orang.
Saya tau, perjalanan hidup saya cenderung biasa aja bagi kebanyakan orang.
Tapi, mengutip bait akhir dari 'membasuh':
"Kutemukan makna hidupku di sini.."
Di dalam membasuh, saya berencana menulis beberapa kesimpulan saya mengenai keseharian, perenungan, dan obrolan bersama teman maupun satu dua kejadian di jalanan.

Semoga, Membasuh tak hanya bisa meredakan duka dan luka saya pribadi, tapi juga bisa menyuburkan suka cita bagi kamu yang kebetulan menemukan blog saya.



Mari membasuh luka dan menyuburkan suka cita!
-Farida Firdani
Malang, 21 Juli 2019

Komentar